Posted by: iramustika | April 24, 2008

Skandal Enron dan Arthur Andersen

Iseng2 lagi browse dan cari info seputar auditing di Wikipedia dan nemu berita tentang Skandal Enron cuman ga lengkap. Bagi yang tertarik dengan audit, pasti pengen tau gimana sih cerita tentang skandal terbesar yang terjadi pada tahun 2001 itu?
Akhirnya ke google dan dapet yang lumayan membuka cakrawala berpikir plus nambah pengetahuan juga. Berikut ini saya copy paste dari tempo online. Tapi kalau mau langsung ke situs Tempo Online-nya, bisa klik disini. Selamat membaca.

 

Rabu, 23 January 2002

Enron dan Sisi Gelap Kapitalisme

Sejarah, kata Francis Fukuyama, telah berakhir dengan kemenangan demokrasi dan pasar bebas. Kenapa demokrasi Amerika tak bisa mengakhiri sejarah ketamakan manusia akan uang serta kekuasaan?

Enron Corp. adalah “pencakar langit” dalam dunia bisnis Amerika, sama seperti Gedung World Trade Center yang menjulang tinggi di kota New York. Mirip Tragedi WTC, tapi minus darah dan kematian, Enron menguap jadi debu saat perusahaan itu menyatakan diri bangkrut pada 2 Desember lalu, -kebangkrutan terbesar dalam sejarah bisnis Amerika sepanjang masa.

Kali ini, tak ada Usamah bin Ladin atau Al Qaidah yang bisa menjadi kambing hitam. Publik Amerika dipaksa untuk menuding cacat dalam sistemnya sendiri-sistem ekonomi maupun politiknya-sebagai “teroris” yang merontokkan Enron secara mengejutkan itu.

Mengejutkan dan mencengangkan. Belum lama berselang, perusahaan raksasa energi itu masih bertengger di peringkat ke-7 dalam “Fortune 500″-daftar perusahaan terkaya dunia versi Majalah Fortune. Omsetnya bisnisnya pada tahun 2000 lalu tercatat sekitar US$ 100 milyar, kurang-lebih sama dengan total pendapatan kotor negeri sebesar Indonesia pada tahun yang sama.

Enron dipandang sukses menyulap diri dari sekadar perusahaan pipanisasi gas alam di Negara Bagian Texas pada 1985 menjadi raksasa global dalam beberapa tahun terakhir. Dia membeli perusahaan air minum di Inggris dan membangun pembangkit listrik swasta di India. Konsep bisnisnya yang visioner dan futuristik membuat dia menjadi anak emas di lantai bursa Wall Street. Harga sahamnya terus meroket.

Akhir 1999, Enron meluncurkan EnronOnline yang dianggap akan mengubah wajah bisnis energi masa depan. Memanfaatkan Internet, divisi e-commerce itu membeli gas, air minum dan tenaga listrik dari produsen dan menjualnya kepada pelanggan atau distributor besar. Enron bahkan memperluas wilayah: membangun jaringan telekomunikasi berkecepatan tinggi serta bertekad menjual bandwidth jaringan itu seperti dia menjual gas dan listrik. Setelah itu mungkin dia akan jual-beli online untuk kertas daur ulang pabrik miliknya.

Tak lama setelah dia memasuki bisnis jasa video-on-demand-menjual tayangan video kepada pelanggan via sambungan internet kecepatan tinggi–harga saham Enron mencapai puncaknya, US$ 90 per lembar, pada Agustus 2000. Meski kemudian merosot bersama jatuhnya saham-saham teknologi dan internet lain, pertengahan tahun lalu nilai pasar Enron (jumlah lembar saham dikalikan harganya) masih berkisar US$ 60 milyar, atau dua kali lipat anggaran belanja Indonesia.

Miliaran dolar menguap hampir seketika. Pada Oktober 2001 Enron menjatuhkan bom di Wall Street dengan melaporkan kerugian ratusan juta dolar pada kwartal itu. Sangat mengejutkan karena Enron hampir selalu membawa berita gembira ke lantai bursa dengan selama empat tahun berturut-turut melaporkan keuntungan. Kabar buruk itu membanting harga saham Enron dari sekitar US$ 30 menjadi US$ 10 per lembar, hanya dalam hitungan hari.

Securities Exchange Commission (SEC), badan pengawas pasar modal, membaui ada yang tidak beres dan mulai menggelar penyidikan. Dalam kondisi terdesak, Enron menjatuhkan bom lebih dahsyat lagi ke lantai bursa ketika pada 8 November mengakui bahwa keuntungannya selama ini adalah fiksi belaka. Enron merevisi laporan keuangan lima tahun terakhir dan membukukan kerugian US$ 586 juta serta tambahan catatan utang sebesar US$ 2,5 miliar.

Harga saham Enron makin berkeping. Namun, pada akhir November, Enron sedikit bisa bernafas lega ketika Dynegy Inc, pesaingnya yang jauh lebih kecil, berniat membeli sahamnya dalam sebuah kesepakatan merger. Harapan itu tak berumur lama. Spiral kematian terus berlanjut. Dynegy mundur setelah Enron makin kehilangan kepercayaan investor dan rating kreditnya jatuh ke titik terendah-berstatus “junk-bond”.

Dalam sebuah hari yang paling “berdarah”, ketika tak kurang seperempat milyar lembar sahamnya dipertukarkan di lantai bursa, harga Enron meluncur ke dasar jurang. Hanya puluhan sen nilainya. Beberapa hari kemudian Enron menyerah: mengajukan petisi bangkrut.

Seperti timbunan besi dan beton bekas bangunan WTC di Manhattan, Enron adalah puing berdebu sekarang. Tapi, cerita tak berakhir di situ.

Lebih Dahsyat dari Bre-X

Punahnya Enron meninggalkan kerugian milyaran dolar bagi investor. Sertifikat saham mereka tak lagi punya nilai-mungkin hanya layak dipajang dalam pigura untuk mengenang salah satu skandal keuangan terbesar di awal abad ini. Skandal Enron lebih dahsyat dari Skandal Saham Bre-X di Bursa Kanada beberapa tahun lalu. Saham Bre-X meroket hanya untuk terjun bebas setelah perusahaan itu mengaku bahwa tambang emasnya di Busang, Kalimantan, terbukti palsu.

Kolapsnya Enron juga mengguncang neraca keuangan para kreditornya yang harus gigit jari meski telah mengucurkan milyaran dolar-JP Morgan Chase dan Citigroup adalah dua kreditor terbesarnya.

Hujan tangis mewarnai dengar pendapat dalam sebuah komite kongres awal Januari ini ketika para karyawan Enron dan investor kecil-kecilan mengisahkan bagaimana simpanan hari tua mereka musnah hampir seketika. Sebagian besar dana pensiun dan tabungan 20.000 karyawan Enron terikat dalam saham yang kini tiada nilai.

Beberapa pekan sebelum bangkrut, Enron juga memecat sekitar 5.000 karyawannya, dari teknisi komputer di Texas hingga pendaur-ulang kertas di New Jersey, menambah beban pengangguran di Amerika yang sekarang sudah mencapai tingkat terburuk dalam 25 tahun terakhir.

Dengan dampak demikian luas, drama sebenarnya-juga sirkus–bahkan baru saja dimulai. Skandal Enron menemukan bentuk barunya di panggung pertempuran hukum yang luas, baik pidana maupun perdata. Implikasi politiknya terbukti telah ikut mengguncang sekaligus Gedung Putih dan Capitol Hill (Gedung Kongres).

Departemen Kehakiman kini menyidik kemungkinan adanya aspek pidana dalam kasus itu. Empat komite kongres, semacam panitia khusus (pansus) DPR di sini, giat mengaduk apa yang tersembunyi. Dan Departemen Tenaga Kerja mencoba mencari siapa yang bertanggungjawab atas kerugian besar para karyawan.

Salah satu episode paling menarik akan dipertontonkan 4 Februari mendatang ketika sebuah komite kongres mengundang aktor utama dalam drama ini: Kenneth L. Lay, presiden komisaris sekaligus direktur Enron. Ken Lay akan ditanyai banyak hal.

Salah satunya: bagaimana bisa dia meraup untung ratusan juta dolar dari penjualan saham Enron sementara ribuan karyawan nyaris kiamat hidupnya tanpa perlindungan?

Sejak akhir tahun 2000, ketika harga saham Enron di posisi puncak, para eksekutif menjual saham yang mereka miliki dengan total nilai US$ 1,1 milyar. Selama empat tahun terakhir, Ken sendiri diperkirakan meraup untung US$ 205 juta dari penjualan sahamnya. Dalam kurun yang sama dia membujuk karyawan dan investor untuk membeli saham Enron, antara lain dengan iming-iming laporan keuangan yang menjanjikan tapi palsu itu.

Bahkan pada 26 September 2001, ketika harga saham jatuh menjadi US$ 25 per lembar, Ken Lay masih mencoba menghibur karyawan untuk tidak menjualnya, sebaliknya membujuk mereka membeli. Dalam e-mail yang dikirimkan kepada para karyawan yang risau, dia mengatakan perusahaan dalam kondisi sehat secara keuangan dan bahwa harga saham Enron “luar biasa murah” dalam posisi itu. Namun, hanya beberapa pekan kemudian, Enron melaporkan kerugian yang bermuara pada kebangkrutannya. Para karyawan tak bisa menjual saham mereka sampai semuanya sudah terlambat: Enron kehilangan nilai sama sekali.

Pertanyaan penting lain akan menyangkut inti dari skandal ini: kenapa Lay membolehkan para eksekutif Enron membentuk sejumlah perusahaan rekanan rahasia dengan institusi di luar yang tidak jelas reputasinya? Tidakkah dia dan dewan direksi mengeduk keuntungan dari perusahaan rekanan itu, sekaligus menyembunyikan hutang Enron di situ sehingga neraca keuangan Enron tetap nampak manis padahal kenyataannya busuk?

Pertanyaan serupa akan diajukan para penyidik kepada para eksekutif di Arthur Andersen, perusahaan akuntan publik yang memeriksa laporan keuangan Enron. Bagaimana bisa mereka kecolongan selama beberapa tahun tanpa menandai penyimpangan dalam akutansi Enron yang agresif, bahkan kriminal itu? Seberapa banyak Andersen tahu tentang pemusnahan sejumlah dokumen audit Enron oleh salah satu auditornya? Pertanyaan yang lebih kejam: tidakkah Andersen ikut terlibat mempermak laporan keuangan mengingat Enron membayar mahal perusahaan itu-US$ 52 juta pada tahun 2000-tak hanya untuk jasa audit tapi juga jasa konsultasi?

Tapi, soal bisa akan lebih sederhana andai saja hanya Ken Lay, atau Arthur Andersen, yang bisa jadi kambing hitam. Skandal Enron tak sesederhana itu.

Jebolnya Pertahanan Berlapis

Majalah Newsweek menulis, skandal ini cukup menakutkan. Yakni kegagalan sistemik, sesuatu yang sebenarnya tercermin jelas dalam Tragedi 11 September. Saat itu, semua perangkat seperti bisu dan tuli tak bisa mencegah teroris membajak empat pesawat, menabrakkannya ke pencakar langit dan membunuh ribuan orang. Dalam kasus Enron, sistem kontrol berlapis-lapis tidak bisa mencegah segelintir orang memuaskan ketamakan di atas penderitaan banyak orang.

Para direktur perusahaan publik punya kewajiban legal dan moral untuk memberikan data keuangan yang jujur-para direksi Enron tidak melakukannya.

Fungsi auditor independen tak hanya memastikan bahwa laporan keuangan sebuah perusahaan sesuai dengan aturan dan standar akutansi, tapi juga memberi investor maupun kreditor gambaran yang fair serta akurat tentang apa yang terjadi. Andersen gagal di dua lapangan itu.

Para analis di Wall Street diharapkan menyiangi secara kritis apa yang tersembunyi di balik angka-angka-tak satupun melakukannya.

Bahkan nyaris tak satu pun para wartawan bisnis-pilar keempat demokrasi-mampu mengendus keanehan Enron sampai kebusukan telah demikian menusuk hidung.

Skandal Enron tak hanya menyangkut episode ketika perusahaan itu rontok tiba-tiba. Tapi, juga misteri bagaimana dia mencuat menjadi raksasa yang meteorik. Dan ini merupakan bagian yang lebih menakutkan lagi karena menyangkut aspek politik dan ekonomi lebih luas, tak sekadar sektor keuangan.farid gaban

About these ads

Responses

  1. salam kenal

  2. salam kenal juga…
    Thanks udah mampir di blog saya….

  3. makasi bwt ‘enron’-nya ya mba

  4. iya, sama2…
    smoga membantu ya….

  5. hay mbak,,aku anak akuntansi di salah satu univ jakarta,mau tanya klo mau magang di KAP wilayah jakarta timur yg bagus dimana ya?
    saya tunggu jawaban secepatnya

  6. Hi sarah…
    klo mo magang di KAP yg bagus sih saya saranin ke the big 4 which is : KPMG, Ernest & Young,PWC dan Deloitte.
    Kalo KAP yg bagus di wilayah JakTim, maaf banget saya juga ga terlalu tau tuh… hehehehe….
    Mungkin bisa tanya ma om Google.
    Smoga berhasil ya…..

  7. hi mbak, salam kenal y!
    saya anak akuntansi di univ. negeri. saya mau tanya nih soal kasus Enron. Kecurangan apa yang dilakukan Enron? Kecurangan Lap. keuangan ya? trus apa dampak kasus Enron ini terhadap profesi akuntan?
    terima kasih ya mbak

    • Terima kasih ya mbak,,jd lebih tau kasus enron,,,pntesan kalo kuliah audit suka dibahas trnyata pengaruhnya besar jg ya!!!!!!!

      • ternyata kasusnya terus dibahas sampe tahun 2011 ini… :)

  8. Halo mbak.kenalin nama saya dewi. Saya lagi ada kesulitan ngerjain tgs kuliah ttg kasus enron. bentuk Kecurangan apa si yg intinya dilakukan enron? Trus apa dampakny thdp profesi akuntan

  9. hi dewi,

    setahu saya bentuk kecurangan yang dilakukan enron adalah membuat laporan keuangan fiktif dan auditor nya sendiri dalam hal ini adalah Andersen malah memberikan opini wajar sehingga para investor tidak menyadari bahwa laporan yg selama ini mereka baca adalah palsu.

    Semoga membantu ya.

  10. haai mba..saya Lily

    mba,apa dengan adanya kasus enron membawa dampak negatif untuk Indonesia?
    karena dalam suatu buku yang saya baca,dia mengatakan bahwa kasus enron menjadi salah satu penyebab runtuhnya perekonomian dunia selain kasus worldcom dan Xerox?

  11. tak boleh terus berlangsung…
    insan akuntansi harus berjiwa bersih,…
    hidup akuntan!!!

  12. Blog yang keren dan berusaha menceritakan sekelumit kejatuhan Enron dengan bahasa yg bisa dicerna secara awam. Great! Keep blogging :-)

  13. saia msh bingung, knp enron itu bs tb” bilang klo dy rugi? knp dy bs tb” rugi? itu gmn cara yah?? thanks

  14. hai mba , thax iah infonya ..
    dampak dari kasus enron bisa berakibat fatal yah mba bagi perekonomi dunia ??
    kata dosen saya , seorang akuntan itu harus memiliki integritas yang tinggi , smoga yah akuntan indonesia memiliki integritas yang tinggi dalam bekerja dan menjunjung kejujuran agar tidak seperti kasusnya enron yang memberikan laporan palsu kpd investor .

  15. Nice info

  16. halo mba Ira,
    salam kenal
    tks ya tulisannya soal Enron :)
    jd lebih paham apa yg sebenarnya terjadi hari2 itu…
    sebenernya ada bukunya in english, tp tebel n males bacanya hehe…

    skandal ini mengakibatkan diwajibkannya auditor mereview n menguji SPI di entitas kala mengaudit…

    apa ini mirip dg kasus century? mari kita lihat sama2

    semoga bermanfaat…

  17. buat mba ira mustika, terima kasih info kasus enron ini, saya mohon izin untuk mengutip bagian-bagian yang saya perlukan untuk bahan tugas saya. tentu saya akan mencantumkan sumber…
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih…

  18. om indra… saya pikir juga begitu,,, kayaknya kasus century juga sama halnya dgn enron,,yg mana baik auditor intern maupun auditor independentnya sama-sama tdk punya integritas yg tinggi,,, sebab bagaimana mungkin terjadinya penggelapan dana bail out apabila tdk ada “kong kalikong” diantara mereka…

  19. mbak ada artikel yg menyatakan adanya kasus manajemen laba/ manipulasi laporan keuangan di perusahaan ga mbak??? tlgin dong……

  20. thx y infonya , saya jadi tau kalo skarang bukan “big five” lagi , tapi “big four” . hehehe
    mbak , nanya dong :
    klo saya pengen magang (maunya si abis magang kerja . hehehehe) di KAP big 4 tapi bahasa inggris saya pas2an (grammarnya brantakan banget) diterima ga ya ama mreka ?

  21. salam kenal buat mb. ira…
    makasih banget atas info tentang skandal enron ini… saya mohon ijin untuk mengutip beberapa bagian yang saya perlukan untuk bahan skripsi saya…
    tentu saya akan mencantumkan sumbernya…
    sekali lagi terima kasih banyak…

  22. thanx ya mba’ bwt artikel nya…
    saya pke bwt tugas saya y mba’…

  23. haduh haduhh..
    sudah lama tidak buka wp, ternyata topik tentang enron & arthur andersen cukup populer.. Heheh…

    Terima kasih ya sudah mampir, bagi yg mau menggunakan sebagai bahan kuliah atau yang lain silahkan saja, semoga bermanfaat… :-D

  24. bagus juga soalnya a lg cari tantang kasus enron.makasih neh artikelnya

  25. makasih atas artikelnya mbak..
    bantu saya bgd buat tugas akuntansi saya…

    tapi masih suruh berkomentar ci..
    ya saya coba pelajari aja lah…:)

    thx sx lagi mbak bwt artikelnya..

  26. thanks pada yang buat artikel ini kini kami tahu apa masalh krisis global yang melanda all world…………..?

  27. ass,,,,,,,,, mbak ira,,, bagaimana pendapat anda mengenai kasus ini,,,,,,,

  28. thax mb’ taz info enron and anderson,.,
    sedikit membantu dalam penyelesaian tugas_^

  29. ngelus dada mode ON

  30. thx yah artikelnya sangat membantu dalam mengerjakan tugas kuliah,,hehehehhe,,

  31. very inspirative :-)

    menambah wawasan seputar dunia audit. Saya mahasisiwi jurusan akuntansi, dgn konsentrasi audit. kebetulan dalam skripsi saya ada bagian yang memuat tentang kasus enron. waktu googling, ketemu blog ini. thx ya mba. sangat membantu..

  32. makasih yy mba iramustika atas infony tentang kasus enron sangat membantu saya

  33. [...] http://iramustika.wordpress.com/2008/04/24/skandal-enron-dan-arthur-andersen/ [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: