Posted by: iramustika | September 14, 2009

Remaja mata2

Baru2 ini saya membeli sebuah teenlit. Buku yang ditulis oleh Ally Carter ini berjudul “I’D TELL YOU I LOVE YOU, BUT THEN I’D HAVE TO KILL YOU” menceritakan tentang sebuah sekolah elit bernama Akademi Gallagher. Kenapa dibilang elit?? karena, sekolah khusus perempuan ini adalah sekolah mata-mata dimana seluruh siswanya adalah murid-murid genius muda berbakat yang diajari membuat kode rahasia tingkat tinggi dan menguasai empat belas bahasa.

Adalah Cammy Morgan, anak kepala sekolah Gallagher -yang juga pensiunan mata-mata CIA- , gadis berusia 16 tahun yang tahun ini mulai mendapat mata pelajaran “Operasi Rahasia”. Dalam sebuah misi, Cammy dan kawan2nya diharuskan mengikuti seorang guru mereka yaitu Mr. Smith tanpa terlihat apalagi ketahuan.  Saat itulah cammy bertemu Josh, pemuda kota Roseville yang terang-terangan menatap cammy saat cammy sedang menjalankan misinya, padahal waktu itu tidak seorang pun yang mampu melihat cammy bahkan teman2nya sekalipun. Itulah sebabnya cammy dijuluki “Bunglon”, karena kemampuannya untuk menjadi tak terlihat disaat cammy ingin tidak terlihat.

Kisah cinta pun terjalin antara Cammy dan Josh, tanpa josh mengetahui rahasia cammy yang bersekolah di sekolah mata-mata. Sampai akhirnya rahasia itu harus terbongkar dan cammy harus merelakan josh dihapus ingatannya tentang jati diri cammy yang sebenarnya.

Lucu banget ni buku.. Ceritanya mengalir ringan dan manis ^_^

Posted by: iramustika | January 28, 2009

Menentukan Materialitas (Planning Materiality)

Masih ingat dengan postingan saya tentang materiality beberapa waktu yang lalu? hmm.. kalau ga ingat bisa liat pada postingan saya disini

Disebutkan bahwa Auditor perlu menetapkan tingkat materialitas untuk membantu dalam merencanakan pengumpulan bahan bukti yang cukup. Materialitas menurut bukunya Aren & Loebbecke adalah “Jumlah atau besarnya kekeliruan atau salah saji dalam informasi akuntansi yang dalam kaitannya dengan kondisi yang bersangkutan mungkin membuat pertimbangan pengambilan keputusan pihak yang berkepentingan berubah atau terpengaruh oleh salah saji tersebut”.

Planning Materiality (PM) ditentukan oleh auditor sebelum proses audit di lapangan berjalan. Nah, PM dapat ditentukan dari Total Revenue ataupun Total Assets. Biasanya suggested range untuk revenue adalah 0,5% s.d 1%. Sedangkan untuk aset berkisar antara 1% s.d 5%.

Antara Revenue dan Total Assets, cukup digunakan salah satunya saja, jadi  tidak perlu dua-duanya.  Biasanya Revenue lebih sering dipakai sebagai acuan dalam PM. Dengan syarat bahwa revenue komparatif antara tahun berjalan dengan tahun sebelumnya tidak mengalami penurunan atau kenaikan yang signifikan. Bila revenue bersifat fluktuatif, maka biasanya total asset yang digunakan. Selanjutnya, setelah menentukan PM, ada yang namanya PAJE Scope, yaitu jumlah minimum dari salah saji yang akan di adjust. Biasanya sih 2% dari PM.

Ilustrasinya sebagai berikut :

Misal sebuah perusahaan yang akan diaudit memiliki total revenue komparatif th 2007 & 2008 berturut-turut Rp 2,5 M dan 2,4 M. Maka PM adalah 0,5% X 2,4 M = 12jt

Artinya : Jumlah minimum akun dalam neraca yang harus divouching adalah 12jt keatas. Kalau kurang dari itu dianggap tidak material.

Selanjutnya, bila auditor menemukan salah saji dalam laporan keuangan dan harus disesuaikan, maka jumlah minimum yang harus diadjust adalah 2% x 12jt = 240 rb. Maksudnya, bila salah saji ditemukan dan adjustment yang perlu dilakukan berjumlah kurang dari 240rb, maka tidak usah dilakukan adjustment, tapi kalau jumlahnya diatas 240rb, harus dibuat adjustment nya.

Posted by: iramustika | January 10, 2009

Kerjaan Auditor apakah mengganggu??

Dulu waktu saya bekerja pada sebuah company, dan company itu sedang diaudit oleh auditor external, beberapa teman kantor saya yang kebetulan dimintai data oleh auditor merasa terganggu dengan aktivitas kerja mereka yang sedang dikerjar tight deadline. Akibatnya, beberapa permintaan data tidak langsung di follow up karena mereka lebih mengutamakan mengerjakan pekerjaan mereka dari pada memberikan data kepada auditor.

Sementara itu, auditor juga dikejar deadline dalam melakukan tugasnya. Sehingga auditor terkesan ngerecokin semua orang dengan meminta-minta data. Tapi memang begitulah tugas mereka.

Seperti itulah yang saya rasakan saat ini.  Saya jadi tau rasanya meminta data kepada klien, berulang kali minta data yang sama dengan versi terupdate bahkan sampai minta tolong kirim email untuk konfirmasi. Kadang saya merasakan ekspresi wajah tidak nyaman saat saya mendatangi meja mereka untuk meminta data. Belum lagi kalau ada dokumen yang tidak lengkap, dengan tebal muka saya harus berulang kali mengingatkan agar mereka segera melengkapi dokumen yang miss.

Emang sih terkesan ngerecokin semua orang, tapi asal kita hadapi dengan senyum lebar dan muka innocent, mereka juga akan ngerasa ga enak kalau ga segera mem-follow up permintaan kita, hehe.

Jadi, apakah kerjaan auditor mengganggu?? semua itu tergantung kita mengganggapnya bagaimana.

Posted by: iramustika | September 16, 2008

I am back……

Fiuuhh… lega rasanya bisa kembali ke dunia maya. After about 5 days jadi orang katro’ gara2 internet gw lagi error. Untungnya hari ini udah berjalan seperti biasa lagi, so.. welcome to the jungle.. hehehe…

Sejak pertama kali gw pake Indosat ampe kemaren2, belom pernah ada kejadian kek gini. Internet error. Makanya waktu mo connect di suatu pagi yang cerah (halah!!!) dan berulang kali searching for the network, gw jadi bingung banget, jaringannya lagi error or modem gw yang rusak. Gila aja klo modem gw tiba2 ngadat, secara mahal gituh.

Untungnya temen gw yang pake indosat juga bilang kalo indosat mang lagi error beberapa hari ini. Jadi rada lega. berarti gw kan ga harus ganti modem. Tinggal nunggu indosat benerin jaringan mereka dan eng ing eng… i am back.

Hehehehe…. senangnya…..

Posted by: iramustika | August 22, 2008

Bingung….

Beberapa bulan terakhir, saya emang jarang banget update blog. Ga tau kenapa lagi ga mood untuk nulis sesuatu. Ditambah lagi, bingung menentukan tema penulisan. Kalo kemaren2 tulisan saya didasarkan oleh hasil diskusi di kelas Kasus Audit, nah berhubung saya udah ga ikut kelas itu lagi, jadi tambah bingung mo nulis apa.

Tapi saya akan tetap menulis lagi di blog ini. Semoga aja mood nya udah balik sehingga kalo ada mood, otomatis ada inspirasi lagi. Cayooo………….

Posted by: iramustika | May 8, 2008

Pendalaman Kasus Auditing ( Resiko Audit)

Yup.. welcome back in Kelas Kasus Audit ( Audit 3). Tema diskusi kali ini adalah Resiko audit. Mahasiswa diminta meng-indentify atau meng-classify termasuk dalam golongan resiko yang mana kasus2 dibawah ini :

1. Ketergantungan pemakai eksternal terhadap laporan keuangan.
Secara umum, semakin besar sebuah perusahaan, maka pengguna laporan keuangan pun akan semakin beragam. Pihak-pihak yang berkepentingan tidak hanya sebatas pemegang saham, namun juga kreditor dan investor. Oleh karna itu, resiko seperti ini telah melekat sejak awal, sehingga dapat dikategorikan sebagai Resiko Bawaan.

2. Kemungkinan klien menghadapi ancaman kesulitan keuangan.
Auditor dapat mendeteksi kemungkinan sebuah perusahaan yang sedang mengalami masalah keuangan sebelum melakukan audit. Dengan melakukan compare laporan keuangan komparatif paling tidak 2 tahun sebelum laporan keuangan yang akan diaudit. Digolongkan ke Resiko Bawaan

3. Integritas Manajemen.
Misalnya seorang auditor menerima tugas untuk mengaudit sebuah perusahaan yang dikelola oleh bekas koruptor, integritas manajemen dalam menyajikan laporan keuangan yang wajar akan diragukan. Auditor dapat menghindari kondisi seperti ini dengan tidak menerima tugas mengaudit perusahaan tersebut, oleh karena itu masuk dalam Resiko Bawaan. 

4. Hasil Audit tahun sebelumnya.
Sebuah hasil audit tahun sebelumnya yang menyatakan ketidakwajaran sebuah laporan keuangan, bukan berarti laporan tersebut akan disajikan tidak wajar juga untuk tahun ini. Internal control yang lemah tahun lalu, bukan berarti lemah pada tahun ini. Namun auditor harus memperhatikan hasil audit tahun sebelumnya  untuk mengurangi resiko bawaan atas kemungkinan sebuah laporan keuangan yang masih sama seperti tahun lalu.

5. Initial Audit.
Initial Audit adalah Audit perdana atas sebuah laporan keuangan dimana laporan keuangan tahun2 sebelumnya belum pernah diaudit. Dalam initial audit, auditor harus memeriksa saldo awal dari tahun awal terjadinya transaksi. Bila perusahaan telah berdiri sejak 10 tahun, maka praktis, auditor perlu memeriksa transaksi 10 tahun terakhir, walaupun audit yang diminta hanya untuk laporan keuangan tahun ini saja. Dan bila auditor harus memeriksa data 10 tahun terakhir, kemungkinan adanya kesalahan tidak terdeteksi sehingga dapat digolongkan menjadi Resiko Deteksi.

6. Banyaknya hubungan-hubungan istimewa.
Apa sih yang dimaksud dengan hubungan istimewa? beberapa siswa mengatakan bahwa hubungan istimewa adalah antara perusahaan induk dan anak, atau kantor pusat dengan kantor cabang. Menurut P’Win, hubungan istimewa merupakan hubungan dimana misalnya sebuah perusahaan go public dan diantara para pemegang saham utama, memiliki transaksi khusus dengan perusahaan. Contohnya : Soeharto dengan Yayasan Supersemar.
Dalam kaitannya dengan pengungkapan penuh di Neraca, terkadang hubungan istimewa seperti ini tidak ingin diungkap oleh manajemen, karena mungkin akan menyebabkan terjadinya pelanggaran prosedur. Sehingga auditor akan merasa dibatasi dalam melakukan tugasnya. Mengandung resiko bawaan, pengendalian dan control.

7. Kerentanan terhadap Fraud.
Sebuah perusahaan yang rentan akan fraud, biasanya internal controlnya lemah. Untuk mendeteksi adanya fraud, auditor dapat menilai setelah melakukan evaluasi pengendalian intern. Resiko ini timbul pada saat internal control, sehingga menjadi Resiko pengendalian. 

8. Karakteristik sistem akuntansi klien.
Tujuan SIA (Sistem Informasi Akuntansi) adalah : (1) Memperbaiki Laporan SIA, (2) Memperbaiki pengendalian intern, (3) Mengurangi clerical cost. Dalam melakukan evaluasi internal control, auditor menilai apakah Accounting control dan Administration control sebuah perusahaan telah cukup baik atau belum.
Dalam accounting control, dinilai apakah data sudah benar2 akurat dan apakah asset telah benar2 aman. Sedangkan dalam administration control, auditor dapat menilai efisiensi perusahaan dan ketaatan terhadap kebijakan perusahaan. Resiko pengendalian mencakup deteksi terhadap internal control, dan karakteristik SIA akan dapat diketahui setelah evaluasi internal control.

Sebenarnya, total kasus yang dibahas ada 17 kasus, namun berhubung saya ga terlalu memperhatikan keseluruhan karna sibuk nyatet, jadi yang bisa saya posting cuma 8 kasus. Semoga bermanfaat.

Ps : to P’ Windratno ( Dosen Kasus Audit), kalau beliau baca posting saya yang ini, mohon dikoreksi ya pa, seandainya ada yang kurang berkenan atau salah menurut bapak. Thanks udah menyempatkan baca blog saya, hehehehe… piss Pak!!!!

Posted by: iramustika | May 6, 2008

Resiko Audit & Materialitas

Audit merupakan sebuah proses pengumpulan dan evaluasi bukti-bukti tentang informasi dari sebuah laporan keuangan suatu entitas, yang dilakukan oleh seorang yang independen dan kompeten di bidangnya. Sedangkan tujuan dari audit itu sendiri adalah memberikan opini kewajaran atas sebuah laporan keuangan. Opini wajar dapat diberikan bila memenuhi beberapa hal sbb :

  1. Laporan keuangan disusun berdasarkan SAK (Standar Akuntansi Keuangan)
  2. SAK diterapkan secara konsisten
  3. Tidak terdapat salah saji yang material

Tidak terdapat salah saji yang material berarti kesalahan yang mungkin timbul dalam laporan keuangan jumlahnya tidak material sehingga tidak akan mempengaruhi pengambilan keputusan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut. Jumlah kesalahan yang tidak material biasanya ditentukan oleh auditor berdasarkan pertimbangan profesional. 

Auditor perlu menetapkan tingkat materialitas untuk membantu dalam merencanakan pengumpulan bahan bukti yang cukup. Auditor juga menyadari bahwa ada sebuah ketidakpastian tertentu dalam mengumpulkan bahan bukti, seperti kompetensi dari bahan bukti tersebut. Ada resiko tertentu bagi auditor dalam mengumpulkan bahan bukti yang terbagi menjadi 3, yaitu :

  1. Resiko Bawaan (Inherent Risk) yaitu kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji yang material. Biasanya resiko ini telah ada dari awal dikarenakan sifat bisnis dari entitas yang bersangkutan.
  2. Resiko Pengendalian (Control Risk) merupakan resiko yang baru akan muncul dan terdeteksi pada saat pemeriksaan internal control. Entitas yang rentan akan fraud biasanya internal controlnya lemah.
  3. Resiko Deteksi (Detection Risk) adalah resiko yang muncul karena auditor tidak mampu menemukan kesalahan dikarenakan kurang menggunakan tehnik atau prosedur yang memadai atau kurangnya pengetahuan auditor.
Posted by: iramustika | May 2, 2008

Audit perusahaan yang menggunakan Cash Basis

Sebagai seorang auditor, anda diminta untuk membuat,

“Laporan Auditor Independen dengan kondisi klien menggunakan Cash Basis namun anda sebagai auditor dapat menerimanya”.

Statement diatas merupakan soal Midtest Kuliah Audit 3, yang telah berlangsung beberapa minggu yang lalu. Tepatnya saya lupa, kira2 2-3 minggu yang lalu. Sifat dari ujian ini adalah open book, tapi karena jawabannya tidak ada di buku text auditing, akhirnya mengarang bebas deh, dan jawaban saya kurang lebih seperti ini :

“Akuntansi memiliki 2 macam metode dalam pencatatan akuntansinya yaitu Accrual basis dan Cash basis. Dalam cash basis, seluruh transaksi perusahaan yang terjadi bersifat tunai. Ini berarti tidak akan pernah dijumpai adanya piutang dan hutang. Begitu juga dengan biaya dan pendapatan. Biaya baru akan diakui dan dicatat setelah terjadi pengeluaran kas atas beban. Dan pendapatan juga baru diakui dan dicatat sebagai pendapatan saat penerimaan kas. Auditor yang memeriksa laporan keuangan perusahaan yang menggunakan cash basis, dapat mempersempit lingkup pemeriksaan karena tidak banyak akun yang perlu diperiksa”.

Kurang lebih seperti itu jawaban saya, dan belakangan saya tau kalau anak sekelas membuat laporan audit baku alias opini kewajaran sebagai jawaban mereka. Nah loh… apa mungkin saya yang ga nyimak dan ga ngerti maksud soalnya ya??

Anyway, tadi siang dalam kelas audit, anak sekelas kembali menanyakan seputar soal midtest tentang cash basis itu. Menurut P’ Win, SAK menyatakan bahwa sebuah laporan keuangan harus disusun berdasarkan accrual basis, dimana beban dan pendapatan diakui pada saat terjadinya transaksi meskipun uang tunai belum diterima atau dikeluarkan. Sehingga bila merujuk kepada SAK sebagai pedoman auditor dalam mengaudit sebuah laporan keuangan, jelas bahwa menggunakan cash basis telah menyimpang dari SAK.

Namun, Auditor dapat juga memiliki pertimbangan lain. Seperti misalnya jenis usaha klien yang akan diaudit. Bila jenis usaha klien merupakan bidang usaha jasa, maka akan menjadi berbeda. Kenapa demikian? coba bayangkan seorang dokter yang berpraktek, setelah memberikan jasanya, namun imbal jasanya tidak langsung dibayar atau paling pahit tidak dibayar, maka jasa yang telah diberikan tidak dapat ditarik kembali. Lain halnya dengan jenis usaha dagang, dimana penjualan barang dagang dapat dilakukan dengan kredit, dan bila tidak dibayar, maka barang dagang tersebut dapat ditarik kembali. Oleh karena itu, biasanya jenis usaha jasa menerapkan cash basis.

Oleh karena itu, auditor dapat mengeluarkan laporan hasil audit pada perusahaan yang menggunakan cash basis namun didalamnya harus menyatakan bahwa perusahaan tersebut menggunakan cash basis dan berdasarkan hal itu tidak akan menyesatkan para pemakai laporan keuangan.

Posted by: iramustika | April 24, 2008

Skandal Enron dan Arthur Andersen

Iseng2 lagi browse dan cari info seputar auditing di Wikipedia dan nemu berita tentang Skandal Enron cuman ga lengkap. Bagi yang tertarik dengan audit, pasti pengen tau gimana sih cerita tentang skandal terbesar yang terjadi pada tahun 2001 itu?
Akhirnya ke google dan dapet yang lumayan membuka cakrawala berpikir plus nambah pengetahuan juga. Berikut ini saya copy paste dari tempo online. Tapi kalau mau langsung ke situs Tempo Online-nya, bisa klik disini. Selamat membaca.

 

Rabu, 23 January 2002

Enron dan Sisi Gelap Kapitalisme

Sejarah, kata Francis Fukuyama, telah berakhir dengan kemenangan demokrasi dan pasar bebas. Kenapa demokrasi Amerika tak bisa mengakhiri sejarah ketamakan manusia akan uang serta kekuasaan?

Enron Corp. adalah “pencakar langit” dalam dunia bisnis Amerika, sama seperti Gedung World Trade Center yang menjulang tinggi di kota New York. Mirip Tragedi WTC, tapi minus darah dan kematian, Enron menguap jadi debu saat perusahaan itu menyatakan diri bangkrut pada 2 Desember lalu, -kebangkrutan terbesar dalam sejarah bisnis Amerika sepanjang masa.

Kali ini, tak ada Usamah bin Ladin atau Al Qaidah yang bisa menjadi kambing hitam. Publik Amerika dipaksa untuk menuding cacat dalam sistemnya sendiri-sistem ekonomi maupun politiknya-sebagai “teroris” yang merontokkan Enron secara mengejutkan itu.

Mengejutkan dan mencengangkan. Belum lama berselang, perusahaan raksasa energi itu masih bertengger di peringkat ke-7 dalam “Fortune 500”-daftar perusahaan terkaya dunia versi Majalah Fortune. Omsetnya bisnisnya pada tahun 2000 lalu tercatat sekitar US$ 100 milyar, kurang-lebih sama dengan total pendapatan kotor negeri sebesar Indonesia pada tahun yang sama.

Enron dipandang sukses menyulap diri dari sekadar perusahaan pipanisasi gas alam di Negara Bagian Texas pada 1985 menjadi raksasa global dalam beberapa tahun terakhir. Dia membeli perusahaan air minum di Inggris dan membangun pembangkit listrik swasta di India. Konsep bisnisnya yang visioner dan futuristik membuat dia menjadi anak emas di lantai bursa Wall Street. Harga sahamnya terus meroket.

Akhir 1999, Enron meluncurkan EnronOnline yang dianggap akan mengubah wajah bisnis energi masa depan. Memanfaatkan Internet, divisi e-commerce itu membeli gas, air minum dan tenaga listrik dari produsen dan menjualnya kepada pelanggan atau distributor besar. Enron bahkan memperluas wilayah: membangun jaringan telekomunikasi berkecepatan tinggi serta bertekad menjual bandwidth jaringan itu seperti dia menjual gas dan listrik. Setelah itu mungkin dia akan jual-beli online untuk kertas daur ulang pabrik miliknya.

Tak lama setelah dia memasuki bisnis jasa video-on-demand-menjual tayangan video kepada pelanggan via sambungan internet kecepatan tinggi–harga saham Enron mencapai puncaknya, US$ 90 per lembar, pada Agustus 2000. Meski kemudian merosot bersama jatuhnya saham-saham teknologi dan internet lain, pertengahan tahun lalu nilai pasar Enron (jumlah lembar saham dikalikan harganya) masih berkisar US$ 60 milyar, atau dua kali lipat anggaran belanja Indonesia.

Miliaran dolar menguap hampir seketika. Pada Oktober 2001 Enron menjatuhkan bom di Wall Street dengan melaporkan kerugian ratusan juta dolar pada kwartal itu. Sangat mengejutkan karena Enron hampir selalu membawa berita gembira ke lantai bursa dengan selama empat tahun berturut-turut melaporkan keuntungan. Kabar buruk itu membanting harga saham Enron dari sekitar US$ 30 menjadi US$ 10 per lembar, hanya dalam hitungan hari.

Securities Exchange Commission (SEC), badan pengawas pasar modal, membaui ada yang tidak beres dan mulai menggelar penyidikan. Dalam kondisi terdesak, Enron menjatuhkan bom lebih dahsyat lagi ke lantai bursa ketika pada 8 November mengakui bahwa keuntungannya selama ini adalah fiksi belaka. Enron merevisi laporan keuangan lima tahun terakhir dan membukukan kerugian US$ 586 juta serta tambahan catatan utang sebesar US$ 2,5 miliar.

Harga saham Enron makin berkeping. Namun, pada akhir November, Enron sedikit bisa bernafas lega ketika Dynegy Inc, pesaingnya yang jauh lebih kecil, berniat membeli sahamnya dalam sebuah kesepakatan merger. Harapan itu tak berumur lama. Spiral kematian terus berlanjut. Dynegy mundur setelah Enron makin kehilangan kepercayaan investor dan rating kreditnya jatuh ke titik terendah-berstatus “junk-bond”.

Dalam sebuah hari yang paling “berdarah”, ketika tak kurang seperempat milyar lembar sahamnya dipertukarkan di lantai bursa, harga Enron meluncur ke dasar jurang. Hanya puluhan sen nilainya. Beberapa hari kemudian Enron menyerah: mengajukan petisi bangkrut.

Seperti timbunan besi dan beton bekas bangunan WTC di Manhattan, Enron adalah puing berdebu sekarang. Tapi, cerita tak berakhir di situ.

Lebih Dahsyat dari Bre-X

Punahnya Enron meninggalkan kerugian milyaran dolar bagi investor. Sertifikat saham mereka tak lagi punya nilai-mungkin hanya layak dipajang dalam pigura untuk mengenang salah satu skandal keuangan terbesar di awal abad ini. Skandal Enron lebih dahsyat dari Skandal Saham Bre-X di Bursa Kanada beberapa tahun lalu. Saham Bre-X meroket hanya untuk terjun bebas setelah perusahaan itu mengaku bahwa tambang emasnya di Busang, Kalimantan, terbukti palsu.

Kolapsnya Enron juga mengguncang neraca keuangan para kreditornya yang harus gigit jari meski telah mengucurkan milyaran dolar-JP Morgan Chase dan Citigroup adalah dua kreditor terbesarnya.

Hujan tangis mewarnai dengar pendapat dalam sebuah komite kongres awal Januari ini ketika para karyawan Enron dan investor kecil-kecilan mengisahkan bagaimana simpanan hari tua mereka musnah hampir seketika. Sebagian besar dana pensiun dan tabungan 20.000 karyawan Enron terikat dalam saham yang kini tiada nilai.

Beberapa pekan sebelum bangkrut, Enron juga memecat sekitar 5.000 karyawannya, dari teknisi komputer di Texas hingga pendaur-ulang kertas di New Jersey, menambah beban pengangguran di Amerika yang sekarang sudah mencapai tingkat terburuk dalam 25 tahun terakhir.

Dengan dampak demikian luas, drama sebenarnya-juga sirkus–bahkan baru saja dimulai. Skandal Enron menemukan bentuk barunya di panggung pertempuran hukum yang luas, baik pidana maupun perdata. Implikasi politiknya terbukti telah ikut mengguncang sekaligus Gedung Putih dan Capitol Hill (Gedung Kongres).

Departemen Kehakiman kini menyidik kemungkinan adanya aspek pidana dalam kasus itu. Empat komite kongres, semacam panitia khusus (pansus) DPR di sini, giat mengaduk apa yang tersembunyi. Dan Departemen Tenaga Kerja mencoba mencari siapa yang bertanggungjawab atas kerugian besar para karyawan.

Salah satu episode paling menarik akan dipertontonkan 4 Februari mendatang ketika sebuah komite kongres mengundang aktor utama dalam drama ini: Kenneth L. Lay, presiden komisaris sekaligus direktur Enron. Ken Lay akan ditanyai banyak hal.

Salah satunya: bagaimana bisa dia meraup untung ratusan juta dolar dari penjualan saham Enron sementara ribuan karyawan nyaris kiamat hidupnya tanpa perlindungan?

Sejak akhir tahun 2000, ketika harga saham Enron di posisi puncak, para eksekutif menjual saham yang mereka miliki dengan total nilai US$ 1,1 milyar. Selama empat tahun terakhir, Ken sendiri diperkirakan meraup untung US$ 205 juta dari penjualan sahamnya. Dalam kurun yang sama dia membujuk karyawan dan investor untuk membeli saham Enron, antara lain dengan iming-iming laporan keuangan yang menjanjikan tapi palsu itu.

Bahkan pada 26 September 2001, ketika harga saham jatuh menjadi US$ 25 per lembar, Ken Lay masih mencoba menghibur karyawan untuk tidak menjualnya, sebaliknya membujuk mereka membeli. Dalam e-mail yang dikirimkan kepada para karyawan yang risau, dia mengatakan perusahaan dalam kondisi sehat secara keuangan dan bahwa harga saham Enron “luar biasa murah” dalam posisi itu. Namun, hanya beberapa pekan kemudian, Enron melaporkan kerugian yang bermuara pada kebangkrutannya. Para karyawan tak bisa menjual saham mereka sampai semuanya sudah terlambat: Enron kehilangan nilai sama sekali.

Pertanyaan penting lain akan menyangkut inti dari skandal ini: kenapa Lay membolehkan para eksekutif Enron membentuk sejumlah perusahaan rekanan rahasia dengan institusi di luar yang tidak jelas reputasinya? Tidakkah dia dan dewan direksi mengeduk keuntungan dari perusahaan rekanan itu, sekaligus menyembunyikan hutang Enron di situ sehingga neraca keuangan Enron tetap nampak manis padahal kenyataannya busuk?

Pertanyaan serupa akan diajukan para penyidik kepada para eksekutif di Arthur Andersen, perusahaan akuntan publik yang memeriksa laporan keuangan Enron. Bagaimana bisa mereka kecolongan selama beberapa tahun tanpa menandai penyimpangan dalam akutansi Enron yang agresif, bahkan kriminal itu? Seberapa banyak Andersen tahu tentang pemusnahan sejumlah dokumen audit Enron oleh salah satu auditornya? Pertanyaan yang lebih kejam: tidakkah Andersen ikut terlibat mempermak laporan keuangan mengingat Enron membayar mahal perusahaan itu-US$ 52 juta pada tahun 2000-tak hanya untuk jasa audit tapi juga jasa konsultasi?

Tapi, soal bisa akan lebih sederhana andai saja hanya Ken Lay, atau Arthur Andersen, yang bisa jadi kambing hitam. Skandal Enron tak sesederhana itu.

Jebolnya Pertahanan Berlapis

Majalah Newsweek menulis, skandal ini cukup menakutkan. Yakni kegagalan sistemik, sesuatu yang sebenarnya tercermin jelas dalam Tragedi 11 September. Saat itu, semua perangkat seperti bisu dan tuli tak bisa mencegah teroris membajak empat pesawat, menabrakkannya ke pencakar langit dan membunuh ribuan orang. Dalam kasus Enron, sistem kontrol berlapis-lapis tidak bisa mencegah segelintir orang memuaskan ketamakan di atas penderitaan banyak orang.

Para direktur perusahaan publik punya kewajiban legal dan moral untuk memberikan data keuangan yang jujur-para direksi Enron tidak melakukannya.

Fungsi auditor independen tak hanya memastikan bahwa laporan keuangan sebuah perusahaan sesuai dengan aturan dan standar akutansi, tapi juga memberi investor maupun kreditor gambaran yang fair serta akurat tentang apa yang terjadi. Andersen gagal di dua lapangan itu.

Para analis di Wall Street diharapkan menyiangi secara kritis apa yang tersembunyi di balik angka-angka-tak satupun melakukannya.

Bahkan nyaris tak satu pun para wartawan bisnis-pilar keempat demokrasi-mampu mengendus keanehan Enron sampai kebusukan telah demikian menusuk hidung.

Skandal Enron tak hanya menyangkut episode ketika perusahaan itu rontok tiba-tiba. Tapi, juga misteri bagaimana dia mencuat menjadi raksasa yang meteorik. Dan ini merupakan bagian yang lebih menakutkan lagi karena menyangkut aspek politik dan ekonomi lebih luas, tak sekadar sektor keuangan.farid gaban

Posted by: iramustika | April 22, 2008

Perang Tarif Kantor Akuntan Publik

Topik seputar perang tarif antara Kantor Akuntan Publik menjadi tema diskusi kelas kasus audit kali ini. Disebutkan bahwa Majalah Warta Ekonomi pernah memuat sebuah artikel yang berjudul “Perang tarif kantor akuntan publik halal atau haram?”

Fakta bahwa baru sekitar 10% saja perusahaan di seluruh Indonesia yang telah menggunakan jasa akuntan publik sedangkan jumlah akuntan publik semakin bertambah sehingga jatah kue yang dapat dibagi menjadi semakin kecil, memunculkan beberapa pertanyaan sbb :

1. Benarkah anggota IAI tidak boleh berlomba menurunkan tarif?
2. Apakah KAP yang efisien tidak diperkenankan menawarkan jasa dengan tarif yang lebih meringankan klien?
3. Apakah perang tarif bisa merusak kredibilitas /citra akuntan publik?

Dalam aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik tentang Fee Profesional menyebutkan bahwa anggota KAP tidak diperkenankan mendapatkan klien dengan cara menawarkan fee yang dapat merusak citra profesi. Lalu, fee yang dapat merusak citra profesi itu fee yang seperti apa sih? Mungkin, yang dimaksud dengan fee yang dapat merusak citra profesi disini adalah dengan menawarkan fee yang lebih rendah dari KAP lainnya dan diiringi dengan penurunan kualitas kerja, sehingga hasil audit tidak mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.

Honorarium atas jasa audit didasarkan atas sukar tidaknya pekerjaan yang dilakukan dan luas tidaknya pekerjaan yang dilakukan. Luas tidaknya lingkup audit dapat diketahui pada saat auditor melakukan pengecekan internal control yang dilakukan selama audit plan.

Nah… menurut p’ dosen, menurunkan tarif boleh saja, asal jangan sampai terjadi perang tarif. Istilah perang disini sudah seperti menancapkan kampak. Auditor mempunyai kewajiban untuk menjaga hubungan sesama rekan seprofesi sehingga dalam menurunkan tarif pun dilakukan masih dalam batas kewajaran, jangan sampai dibawah biaya operasional. Salah satu pencegahan agar penurunan tarif tidak berkembang menjadi perang tarif adalah KAP diawasi oleh Bapepam dan diaudit sehingga dapat diketahui bila terjadi penurunan tarif yang tidak sehat.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah KAP yang menurunkan tarif dapat menjaga kualitasnya? Pada batasan-batasan tertentu masih dapat dilakukan yaitu dengan menurunkan margin, namun bila ada biaya-biaya yang tidak muncul dalam perhitungan harga pokok tentu akan menjadi masalah.

Older Posts »

Categories