Posted by: iramustika | April 22, 2008

Perang Tarif Kantor Akuntan Publik

Topik seputar perang tarif antara Kantor Akuntan Publik menjadi tema diskusi kelas kasus audit kali ini. Disebutkan bahwa Majalah Warta Ekonomi pernah memuat sebuah artikel yang berjudul “Perang tarif kantor akuntan publik halal atau haram?”

Fakta bahwa baru sekitar 10% saja perusahaan di seluruh Indonesia yang telah menggunakan jasa akuntan publik sedangkan jumlah akuntan publik semakin bertambah sehingga jatah kue yang dapat dibagi menjadi semakin kecil, memunculkan beberapa pertanyaan sbb :

1. Benarkah anggota IAI tidak boleh berlomba menurunkan tarif?
2. Apakah KAP yang efisien tidak diperkenankan menawarkan jasa dengan tarif yang lebih meringankan klien?
3. Apakah perang tarif bisa merusak kredibilitas /citra akuntan publik?

Dalam aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik tentang Fee Profesional menyebutkan bahwa anggota KAP tidak diperkenankan mendapatkan klien dengan cara menawarkan fee yang dapat merusak citra profesi. Lalu, fee yang dapat merusak citra profesi itu fee yang seperti apa sih? Mungkin, yang dimaksud dengan fee yang dapat merusak citra profesi disini adalah dengan menawarkan fee yang lebih rendah dari KAP lainnya dan diiringi dengan penurunan kualitas kerja, sehingga hasil audit tidak mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.

Honorarium atas jasa audit didasarkan atas sukar tidaknya pekerjaan yang dilakukan dan luas tidaknya pekerjaan yang dilakukan. Luas tidaknya lingkup audit dapat diketahui pada saat auditor melakukan pengecekan internal control yang dilakukan selama audit plan.

Nah… menurut p’ dosen, menurunkan tarif boleh saja, asal jangan sampai terjadi perang tarif. Istilah perang disini sudah seperti menancapkan kampak. Auditor mempunyai kewajiban untuk menjaga hubungan sesama rekan seprofesi sehingga dalam menurunkan tarif pun dilakukan masih dalam batas kewajaran, jangan sampai dibawah biaya operasional. Salah satu pencegahan agar penurunan tarif tidak berkembang menjadi perang tarif adalah KAP diawasi oleh Bapepam dan diaudit sehingga dapat diketahui bila terjadi penurunan tarif yang tidak sehat.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah KAP yang menurunkan tarif dapat menjaga kualitasnya? Pada batasan-batasan tertentu masih dapat dilakukan yaitu dengan menurunkan margin, namun bila ada biaya-biaya yang tidak muncul dalam perhitungan harga pokok tentu akan menjadi masalah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: