Posted by: iramustika | May 2, 2008

Audit perusahaan yang menggunakan Cash Basis

Sebagai seorang auditor, anda diminta untuk membuat,

“Laporan Auditor Independen dengan kondisi klien menggunakan Cash Basis namun anda sebagai auditor dapat menerimanya”.

Statement diatas merupakan soal Midtest Kuliah Audit 3, yang telah berlangsung beberapa minggu yang lalu. Tepatnya saya lupa, kira2 2-3 minggu yang lalu. Sifat dari ujian ini adalah open book, tapi karena jawabannya tidak ada di buku text auditing, akhirnya mengarang bebas deh, dan jawaban saya kurang lebih seperti ini :

“Akuntansi memiliki 2 macam metode dalam pencatatan akuntansinya yaitu Accrual basis dan Cash basis. Dalam cash basis, seluruh transaksi perusahaan yang terjadi bersifat tunai. Ini berarti tidak akan pernah dijumpai adanya piutang dan hutang. Begitu juga dengan biaya dan pendapatan. Biaya baru akan diakui dan dicatat setelah terjadi pengeluaran kas atas beban. Dan pendapatan juga baru diakui dan dicatat sebagai pendapatan saat penerimaan kas. Auditor yang memeriksa laporan keuangan perusahaan yang menggunakan cash basis, dapat mempersempit lingkup pemeriksaan karena tidak banyak akun yang perlu diperiksa”.

Kurang lebih seperti itu jawaban saya, dan belakangan saya tau kalau anak sekelas membuat laporan audit baku alias opini kewajaran sebagai jawaban mereka. Nah loh… apa mungkin saya yang ga nyimak dan ga ngerti maksud soalnya ya??

Anyway, tadi siang dalam kelas audit, anak sekelas kembali menanyakan seputar soal midtest tentang cash basis itu. Menurut P’ Win, SAK menyatakan bahwa sebuah laporan keuangan harus disusun berdasarkan accrual basis, dimana beban dan pendapatan diakui pada saat terjadinya transaksi meskipun uang tunai belum diterima atau dikeluarkan. Sehingga bila merujuk kepada SAK sebagai pedoman auditor dalam mengaudit sebuah laporan keuangan, jelas bahwa menggunakan cash basis telah menyimpang dari SAK.

Namun, Auditor dapat juga memiliki pertimbangan lain. Seperti misalnya jenis usaha klien yang akan diaudit. Bila jenis usaha klien merupakan bidang usaha jasa, maka akan menjadi berbeda. Kenapa demikian? coba bayangkan seorang dokter yang berpraktek, setelah memberikan jasanya, namun imbal jasanya tidak langsung dibayar atau paling pahit tidak dibayar, maka jasa yang telah diberikan tidak dapat ditarik kembali. Lain halnya dengan jenis usaha dagang, dimana penjualan barang dagang dapat dilakukan dengan kredit, dan bila tidak dibayar, maka barang dagang tersebut dapat ditarik kembali. Oleh karena itu, biasanya jenis usaha jasa menerapkan cash basis.

Oleh karena itu, auditor dapat mengeluarkan laporan hasil audit pada perusahaan yang menggunakan cash basis namun didalamnya harus menyatakan bahwa perusahaan tersebut menggunakan cash basis dan berdasarkan hal itu tidak akan menyesatkan para pemakai laporan keuangan.


Responses

  1. ass, salam orang idealis

  2. tnx infonya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: