Posted by: iramustika | May 8, 2008

Pendalaman Kasus Auditing ( Resiko Audit)

Yup.. welcome back in Kelas Kasus Audit ( Audit 3). Tema diskusi kali ini adalah Resiko audit. Mahasiswa diminta meng-indentify atau meng-classify termasuk dalam golongan resiko yang mana kasus2 dibawah ini :

1. Ketergantungan pemakai eksternal terhadap laporan keuangan.
Secara umum, semakin besar sebuah perusahaan, maka pengguna laporan keuangan pun akan semakin beragam. Pihak-pihak yang berkepentingan tidak hanya sebatas pemegang saham, namun juga kreditor dan investor. Oleh karna itu, resiko seperti ini telah melekat sejak awal, sehingga dapat dikategorikan sebagai Resiko Bawaan.

2. Kemungkinan klien menghadapi ancaman kesulitan keuangan.
Auditor dapat mendeteksi kemungkinan sebuah perusahaan yang sedang mengalami masalah keuangan sebelum melakukan audit. Dengan melakukan compare laporan keuangan komparatif paling tidak 2 tahun sebelum laporan keuangan yang akan diaudit. Digolongkan ke Resiko Bawaan

3. Integritas Manajemen.
Misalnya seorang auditor menerima tugas untuk mengaudit sebuah perusahaan yang dikelola oleh bekas koruptor, integritas manajemen dalam menyajikan laporan keuangan yang wajar akan diragukan. Auditor dapat menghindari kondisi seperti ini dengan tidak menerima tugas mengaudit perusahaan tersebut, oleh karena itu masuk dalam Resiko Bawaan. 

4. Hasil Audit tahun sebelumnya.
Sebuah hasil audit tahun sebelumnya yang menyatakan ketidakwajaran sebuah laporan keuangan, bukan berarti laporan tersebut akan disajikan tidak wajar juga untuk tahun ini. Internal control yang lemah tahun lalu, bukan berarti lemah pada tahun ini. Namun auditor harus memperhatikan hasil audit tahun sebelumnya  untuk mengurangi resiko bawaan atas kemungkinan sebuah laporan keuangan yang masih sama seperti tahun lalu.

5. Initial Audit.
Initial Audit adalah Audit perdana atas sebuah laporan keuangan dimana laporan keuangan tahun2 sebelumnya belum pernah diaudit. Dalam initial audit, auditor harus memeriksa saldo awal dari tahun awal terjadinya transaksi. Bila perusahaan telah berdiri sejak 10 tahun, maka praktis, auditor perlu memeriksa transaksi 10 tahun terakhir, walaupun audit yang diminta hanya untuk laporan keuangan tahun ini saja. Dan bila auditor harus memeriksa data 10 tahun terakhir, kemungkinan adanya kesalahan tidak terdeteksi sehingga dapat digolongkan menjadi Resiko Deteksi.

6. Banyaknya hubungan-hubungan istimewa.
Apa sih yang dimaksud dengan hubungan istimewa? beberapa siswa mengatakan bahwa hubungan istimewa adalah antara perusahaan induk dan anak, atau kantor pusat dengan kantor cabang. Menurut P’Win, hubungan istimewa merupakan hubungan dimana misalnya sebuah perusahaan go public dan diantara para pemegang saham utama, memiliki transaksi khusus dengan perusahaan. Contohnya : Soeharto dengan Yayasan Supersemar.
Dalam kaitannya dengan pengungkapan penuh di Neraca, terkadang hubungan istimewa seperti ini tidak ingin diungkap oleh manajemen, karena mungkin akan menyebabkan terjadinya pelanggaran prosedur. Sehingga auditor akan merasa dibatasi dalam melakukan tugasnya. Mengandung resiko bawaan, pengendalian dan control.

7. Kerentanan terhadap Fraud.
Sebuah perusahaan yang rentan akan fraud, biasanya internal controlnya lemah. Untuk mendeteksi adanya fraud, auditor dapat menilai setelah melakukan evaluasi pengendalian intern. Resiko ini timbul pada saat internal control, sehingga menjadi Resiko pengendalian. 

8. Karakteristik sistem akuntansi klien.
Tujuan SIA (Sistem Informasi Akuntansi) adalah : (1) Memperbaiki Laporan SIA, (2) Memperbaiki pengendalian intern, (3) Mengurangi clerical cost. Dalam melakukan evaluasi internal control, auditor menilai apakah Accounting control dan Administration control sebuah perusahaan telah cukup baik atau belum.
Dalam accounting control, dinilai apakah data sudah benar2 akurat dan apakah asset telah benar2 aman. Sedangkan dalam administration control, auditor dapat menilai efisiensi perusahaan dan ketaatan terhadap kebijakan perusahaan. Resiko pengendalian mencakup deteksi terhadap internal control, dan karakteristik SIA akan dapat diketahui setelah evaluasi internal control.

Sebenarnya, total kasus yang dibahas ada 17 kasus, namun berhubung saya ga terlalu memperhatikan keseluruhan karna sibuk nyatet, jadi yang bisa saya posting cuma 8 kasus. Semoga bermanfaat.

Ps : to P’ Windratno ( Dosen Kasus Audit), kalau beliau baca posting saya yang ini, mohon dikoreksi ya pa, seandainya ada yang kurang berkenan atau salah menurut bapak. Thanks udah menyempatkan baca blog saya, hehehehe… piss Pak!!!!


Responses

  1. salam kenal mba Ira mustika,,,saya merasa ilmu pengetahuan saya bertambah setelah baca blog ny mba, beda dari yg laen..🙂

    oya lansung aja mba, dikantor saya ditunjuk menjadi internal control unit yg sebelumnya saya jadi accounting, cuma bingung untuk kedepannya lbh baek pilih mana ya mba ? apakah benar internal control unit lbh tinggi posisinya dibanding accounting ?? karena saya hanya me-monitoring aktivitas kerja operasional cabang saja, tidak termasuk monitoring perkreditan. sedangkan accounting mencakup semuanya, cuma ga independent aja. saya bekerja di salah satu bank swasta di indonesia. Mohon pencerahannya Mba ira….

    Regards

  2. Pa windaratno?? kayanya itu dosen audit saya juga mba di STEI. Mba kuliah dimana?

  3. mba ini di STEI jg tau . . hahahaa . .
    salam kenal ya mba . .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: